Saudi National Day (Holi)

Kalau di Saudi, hanya ada 3 waktu libur di luar weekend rutin, yaitu : Hari raya Iedul Fitri (1 Syawal, sepekan), pelaksanaan haji/Iedhul Adha (10 Dhzulhizah, sepekan), dan National Day (23 September, sehari). Yang menarik adalah berbeda dengan Iedul Fitri dan Iedul Adha yang menggunakan kalender hijriah, Saudi National Day menggunakan kalender masehi. Coba kalau pake kalender Hijriah juga, kan liburnya bisa makin cepat…🙂

Saudi National Day merupakan peringatan deklarasi Negara kerajaan Saudi Arabia (Kingdom of Saudi Arabia, KSA). Untuk itu, mari kita coba ulik – ulik dikit mengenai sejarah pendirian negara ini (perasaan negara tercinta, Indonesia, juga belum pernah dibahas disini…🙂, ok mudah” next time ada kesempatan). lets go…!

Sejarah Singkat Kingdom of Saudi Arabia.

KSA flag

KSA Flag

Keluarga Ibn Saud sebenarnya sempat terusir dari Riyadh, setelah Al – Rashid berhasil menaklukan kota Riyadh pada tahun 1890, ketika itu Abdul Aziz Al Saud masih berumur 15 tahun. Keluaga kerajaan kemudian melarikan diri ke Qatar, dilanjutkan ke Bahrain, sebelum akhirnya menetap di Kuwait untuk meminta suaka. Pada tahun 1901, dengan dukungan keluarganya (terutama Bibinya, Al Jowhara bint Faysal), Abdul Aziz Al Saud menggalang kekuatan untuk merebut kembali kota Riyadh dari keluarga Al Rashid. Gerakan untuk merebut kembali kota Riyadh juga didukung oleh  keluarga kerajaan Kuwait.  Puncaknya pada tanggal 15 Januari 1902, Dia memimpin sekitar 40 orang untuk menyusup ke dalam kota dan berhasil membunuh gubernur kota saat itu, Ibn Ajlan, sebagai tanda telah jatuhnya kota Riyadh ke tangan Al Saud Family.

Pada tahun 1904, didukung oleh Kekhalifan Turki Ustmani, Al Rashid terus melakukan pertempuran terhadap Abdul Aziz Al Saud untuk daerah – daerah yang masih mereka kuasai. Pertempuran – pertempuran ini memakan biaya yang cukup besar untuk Abdul Aziz sendiri. Namun pada akhirnya Abdul Aziz Al Saud berhasil menguasai keseluruhan Najd dan pesisir utara Arab pada tahun 1912. Selanjutnya Abdul Aziz mendirikan gerakan Al-Ikhwan, sebuah gerakan yang didukung oleh Ulama Salafi. Dengan dukungan Al Ikhwan, Abdul Aziz terus melakukan perluasan daerah kekuasaanya.

Ketegangan Antara Kekhalifan Turki Ustmani dan Kerajaan Inggris pada perang dunia pertama (1914 – 1918) membuat, Abdul Aziz Al Saud dapat dengan mudah membangun hubungan dengan Inggris. Karena pada saat bersamaan Abdul Aziz Al Saud masih berkonflik dengan Al Rashid yang merupakan sekutu Turki Ustmani. Hubungan diplomatik Al Saud dengan Inggri ditandai oleh “Perjanjian Darin” pada tahun 1915. Dalam perjanjian itu disebut jika Saudi menjadi daerah yang dilindungi oleh pemerintah kerajaan Inggris. Pada Tahun 1921, Kerajaan Al Rashid benar – benar runtuh dan seluruh daerah kekuasaanya jatuh ketangan Abdul Aziz Al Saud secara dejure. Dan salah satu putri raja terakhir Al Rashid (Muhammad bin Talal), Watfa, nantinya menikah dengan putra Abdul Aziz, Musaid. Dari pernikahan tersebut akan lahir Prince Faisal bin Musa’id yang melakukan pembunuhan kepada King Faisal pada tahun 1975.

Kemudian pengakuaan perluasaan daerah kekuasaan kerajaan Najd oleh pemerintah kerjaaan Inggris adalah dengan perjanjian di Unqair pada tahun 1922. Pengakuan ini membuat Abdul Aziz Al Saud juga harus mengakui daerah kekuasaan Inggris sepanjang pesisir Arab dan Iraq. Perjanjian ini sendiri penting bagi Inggris untuk mengamankan jalur perdagangan mereka ke Asia, dari India Hingga Terusan Suez, Mesir.

Hejaz and Najd

Hejaz and Najd (Old Map)

Penaklukkan Hejaz.

Pada tahun 1925, Abdul Aziz Al Saud  terus melakukan ekspansi kekuasaan hingga berhasil mengusai Hejaz yang ditandai dengan penaklukkan kota Suci Mekah. Dan pada tahun berikutnya, tepatnya 8 Januari 1926, Abdul Aziz Al Saud medeklarasikan diri sebagai Raja Hejaz (King of Hejaz). Yang dilanjutkan dengan pengakuan dari kerajaan Inggris melalui perjanjian di Jeddah. Perlu di catat bahwa kerajaan Inggris sebelumnya bersekutu dengan kerajaan Hejaj. Namun ketika kota itu jatuh ke tangan Abdul Aziz, kerajaan inggris berpindah untuk mengakui kekuasaan Abdul Aziz. Sebagai catatan tambahan informasi: Jeddah, Mekkah, dan Madinah merupakan daerah Hejaz. Jadi dengan dikuasainya Hejaz oleh Abdul Aziz Al Saud, membuatnya menguasai daerah terpenting umat Islam seluruh dunia.

Al Ikhwan yang merupakan salah satu pilar kekuatan utama Abdul Azin menginginkan agar ekspansi terus dilakukan ke arah Transjordan, Iraq, dan Kuwait.  Namun kerajaan yang melihat perluasan akan menimbulkan permasalahan dengan Inggris menolak dengan tegas. Hingga pada akhirnya, pada tahun 1927 pecahlah konflik terbuka antara gerakan ikhwan dengan kerajaan. Konflik ini berlangsung sekitar 2 tahun hingga 1929, tepatnya pada peperangan Sabilla, di mana salah seorang pemimpin gerakan Al Ikhwan, Faisal Al-Dawish berhasil dilumpuhkan. Kekuatan yang terlibat pada peperangan ini adalah 30 ribu pasukan Abdul Aziz Al Saud yang menumpas sekitar 10 ribu pasukan Al Ikhwan. Dan jumlah korban yang jatuh di kedua belah pihak diperkirakan sebanyak 500 orang dari Al Ikhwan dan sebanyak 200 orang dari pihak kerajaan.

setelah berhasil menguasai Najd dan juga Hejaz, serta pengakuan Inggris terhadap kekuasaanya, pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz Al Saud mendeklarasikan berdirinya Negara Kerajaan Saudi Arabia (Kingdom of Saudi Arabia, KSA). Dan dia sendiri sebagai raja pertama untuk negara yang baru berdiri ini.

Raja Saudi Arabia dari masa ke masa.

Abdul Aziz Al Saud

The first king of Kingdom Saudi Arabia (Abdul Aziz Al Saud)

Dari pertama kali berdirinya kerajaan Saudi Arabia, seluruh raja yang berkuasa merupakan generasai pertama atau anak dari Abdul Aziz Al Saud. Abdul Aziz Al Saud setidaknya memiliki 45 orang putra dari 22 istri-nya. Sedangkan untuk jumlah anak perempuannya tidak diperoleh data yang lengkap mengenai jumlah pastinya. Berikut merupakan raja – raja yang memimpin Kerajaan Saudi Arabia :

  1. Abdul Aziz Al Saud (1932 – 1953)
  2. Saud bin Abdul Aziz Al Saud (1953 – 1964)
  3. Faisal bin Abdul Aziz Al Saud (1964 – 1975)
  4. Khalid bin Abdul Aziz Al Saud (1975 – 1982)
  5. Fahd bin Abdul Aziz Al Saud (1982 – 2005)
  6. Abdullah bin Abdula Aziz Al Saud (2005 – sekarang)

selain raja, di Saudi juga dikenal crown prince atau putra mahkota, yang merupakan orang kedua setelah raja. Saat ini yang memegang tampuk kekuasaan sebagai crown prince adalah Prince Salman yang menggantikan Prince Nayef yang wafat pada Juni 2012 yang lalu. Dengan Saudi Arabia adalah negara yang absolut monarki, pergiliran kekuasan tentu sangat rentan terutama pada generasi kedua dan selanjutnya. Apalagi di tengah kondisi Raja Abdullah yang sudah mencapai usia 89 tahun.

Sayid Machzar.

“Time is free but it’s priceless. You can’t own it but you can use it. You can’t keep it but you can spend it. Once you’ve lost it, you can never get it back”. – anonymous-

reference:

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Saudi_Arabia

http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Saud

http://www.datarabia.com/royals/famtree.do?id=176551

This entry was posted in History, Saudi.. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s